PLAWAN

PLAWAN, Sebuah Karya Nyata dengan Konsep Kemandirian Masyarakat Menuju Pembangunan Berkelanjutan. Plawan adalah nama luweng/mulut gua vertikal di Desa Giricahyo, Kecamtan Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul. Di bawah luweng ini mengalir sungai bawah tanah pada kedalaman 107 m dari mulut gua. Air sungai ini mengalir sepanjang tahun dengan debit pada musim hujan 200L/detik dan saat musim kemarau 30-40L/detik (dokumen Acintyacunyata Speleological Club dan telah dicek ulang oleh Waterplant Community). Kondisi air secara fisik dan kimia adalah baik, untuk kondisi biologi ditemukan adanya bakteri coli yang dapat dimusnahkan dengan perebusan air yang sempurna sebelum dikonsumsi. Kekayaan bawah tanah ini ternyata tidak dapat dinikmati oleh masyarakat desa karena setiap musim kemarau mereka masih mengalami kekurangan air. Gunung Kidul dengan batuan karst menjadikan air hujan yang turun setiap musim hujan tidak dapat disimpan dalam tanah. Air hujan langsung lolos menuju sungai-sungai bawah tanah yang dalam namun di antara ruas sungai ini biasanya terdapat lubang yang dikenal sebagai gua atau luweng untuk mencapai sungai tersebut. Selama ini masyarakat mencukupi kebutuhan air dengan menampung air hujan dalam bak Penampungan Air Hujan (PAH) (yang akan menjadi persediaan air di musim kemarau) atau mengambil air telaga (yang dasar telaganya kedap air sehingga saat musim hujan telaga terisi air penuh dan dapat dimanfaatkan saat musim kemarau), namun di detik-detik terakhir musim kemarau, kekurangan air sangat menghimpit dan satu-satunya cara yang dilakukan adalah membeli air tangki dari pihak swasta. Dalam kondisi semacam ini bantuan drop air dari pemerintah juga selalu tiba, namun juga selalu kurang. Masyarakat desa Giricahyo sudah sangat familier dengan keadaan ini, namun lagu lama ini tidak boleh berlarut-larut dibiarkan, toh potensi air sebenarnya dimiliki desa ini. Jika dibiarkan berlarut-larut maka masyarakat tidak akan berkembang dan hanya bekerja keras di musim hujan untuk hidup di musim kemarau, di sisi lain pemerintah juga akan selalu memiliki pekerjaan rumah besar tiap tahun untuk memberikan bantuan. Perubahan harus dilakukan. Ada beberapa opsi untuk perubahan, opsi pertama; memberikan bantuan PAH yang cukup kepada masyarakat, opsi kedua; memberikan bantuan air setiap musim kemarau, opsi ketiga; melakukan pengangkatan air gua plawan. Dari ketiga opsi di atas masyarakat memandang bahwa pengangkatan air gua plawan merupakan opsi terbaik, karena air yang mengalir deras tentu dapat memenuhi kebutuhan air seluruh masyarakat desa. Ide pengangkatan air tidak dapat serta merta diwujudkan dan ditangani dengan cara-cara konvensional. Diperlukan banyak pendekatan untuk mewujudkannya. Pendekatan pertama adalah pendekatan teknis; apakah air sungai dengan debit 30-40L/detik dapat mencukupi kebutuhan penduduk satu desa, infrastruktur apa yang harus dibagun untuk mengalirkan air ini, dan yang paling penting adalah energi pengangkatan yang akan digunakan. Pendekatan kedua adalah pendekatan nonteknis, membahas siapa yang akan mendanai pembangunannya, diperlukan kerja sama antarsiapa, dan siapa yang akan merawat instalasi ini hingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat selama-lamanya. Pendekatan ketiga adalah aspek lingkungan yang harus dijaga ketika sumber air diambil oleh masyarakat. Aspek-aspek inilah yang kemudian mengerucut kepada keinginan memandirikan masyarakat Desa Giricahyo pascapembangunan instalasi dengan rentang waktu panjang dan jika terjadi kerusakan terhadap sistem ataupun infrastrukturnya masyarakat dapat memperbaiki. Pendekatan terhadap aspek teknis diwujudkan dalam infrastruktur inovatif namun memiliki teknologi yang ramah terhadap pendidikan, kehidupan, dan ekonomi masyarakat desa. Artinya, teknologi ini mudah dipahami dan dioperasikan masyarakat desa yang sesuai dengan tingkat pendidikan mereka dan tidak memberatkan dari sisi ekonomi. Dengan pertimbangan ini maka diputuskanlah untuk menggunakan teknologi energi surya sebagai energi utama pengangkatan. Secara teknis energi ini sangat ramah lingkungan karena tidak memakan bahan bakar minyak dan memanfaatkan sumber energi matahari secara optimal. Secara geografis letak Plawan di atas bukit sangat memungkinkan sel surya dibangun karena di lokasi ini matahari sangat melimpah. Pendekatan terhadap aspek kedua diwujudkan dengan menjalin kerja sama antara masyarakat Desa Giricahyo sebagai subyek dan obyek pembangunan, pemerintah Kabupaten Gunung Kidul sebagai pemberi dana, mahasiswa Universitas Gadjah Mada sebagai mediator dan pelaksana di lapangan mendampingi masyarakat. Dalam perkembangannya cakupan stakeholder yang bekerja sama menjadi lebar meliputi Departemen Pekerjaan Umum yang mendanai pengadaan sel surya dan PT. Wijaya Karya Intrade yang menyediakan jasa pengadaan sel surya tersebut, serta berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Selain itu juga dibentuk suatu badan yang akan dilatih untuk dapat mengelola infrastruktur yang dibangun. Badan yang dibentuk adalah badan serupa PDAM dengan semangat paguyuban ala pedesaan. Badan ini diberi nama OKAM (Organisasi Kelola Air Mandiri) yang beranggotakan warga desa Giricahyo. OKAM berdiri dan dilatih dengan ketrampilan yang diperlukan sebuah organisasi profesional untuk mengelola suatu investasi. Mereka terlibat aktif dalam pembangunan hingga pengoperasian. OKAM ini juga akan bertanggung jawab terhadap kondisi lingkungan di sekitar luweng dengan tetap menjaga kehijuannya dan tetap menjadikannya sebagai daerah lolos air, penyuplai air di sungai bawah tanah. Pada tahun 2006 langkah-langkah mewujudkan konsep-konsep di atas mulai dilaksanakan dengan penerjunan mahasiswa UGM dalam wadah Kuliah Kerja Nyata dan pendekatan nonteknis berupa pembentukan OKAM yang telah memiliki dasar hukum pendirian (termaktub dalam keputusan desa) dan telah mendapatkan berbagai latihan organisasi dan bergabung dalam pertemuan dengan stakeholder lain serta aktif saat proses pembangunan berjalan. Dalam rentang 2006-2008 awal dilakukan pembangunan instalasi dan infrastruktur pengangkatan air. Alhasil di Desa Giricahyo telah berdiri instalasi sel surya dan pengangkatan air beserta kelengkapananya untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat. Inilah satu contoh aplikasi konsep pembangunan berkelanjutan yang memanfaatkan potensi bumi dengan ilmu, teknologi, dan kearifan lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi lokal ditanggapi dengan kearifan lokal untuk memecahkan masalah, yang menuntut sikap proaktif masyarakat yang ingin mandiri dan sejahtera serta inisiatif pihak yang akan membantu. Konsep ini sangat tepat diterapkan untuk memecahkan berbagai masalah serupa yang masih dihadapi oleh sebagaian masyarakat Indonesia. (sumber: waterplant community (www.airguaplawan.net)).

 

tulisan ini pernah iseng diikutkan lomba…gak menang tapi…

dengan tulisan ini, namaku jadi muncul di internet…coba googling “zulaikha budi astuti” nanti akan ketemu nama saya di deret paling bawah, sebagai partisipan (kan nama saya dimulai dari “Z)….jadi bertekad, setiap tahun harus ada tulisan yang dipublikasukan…hehehe….

menulis juga harus disiplin

One response to “PLAWAN

  1. Plawan…hebat euy….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s