LELAKI TUA DI UJUNG GANG

Dalam perjalanan ke kampus, 10.00 pagi

Mbah, lemarine regine pinten??”, Tanya seorang ibu. “ nggih, paringi gangsal atus mawon”, suara renta itu menyahut dengan sopan. “Mbok kirang mbah, tigangatus kemawon.”, tawar si ibu pada lelaki tua itu.

Ooo… harga lemarinya lima ratus ribu. Lumayan juga sih, atau aku beli saja ya. Lemariku yang dari mbak Nurul sudah rusak. Kalau aku beli, nggak perlu nambah ongkos transport, kan tinggal angkut ke kos, lha wong kosku dekat dari rumah lelaki tua itu.

Ini hanyalah pikiran sesaatku dalam perjalanan menuju kampusku siang ini. Beli lemari baru. Beberapa hari ini kalau aku lewat gang itu aku selalu melihat lelaki tua mengerjakan sesuatu yang besar. Di satu hari aku melihatnya memotong kayu-kayu besar, memasah tiap elemen kayu hingga halus. Di hari lain aku melihatnya merangkaikan elemen-elemn kayu itu. Di hari lain aku melihat memakunya, dan di hari terakhir aku melihatnya bersama ibu itu sedang tawar-tawaran harga. Sebuah lemari cantik, cukup besar, dengan warna kayu alami, alias tidak dicat, tapi diplitur.

 

Dengan kepala pusing, siang nan terik, 12.00 siang.

Kepalaku pusing sekali. Sakit dan berputar-putar. Panas mentari yang terik menambah tingkat kepusinganku 50%. Seperti biasa aku memasuki gang kecil terakhir menuju kostku. Tiba-tiba aku menemukan sosok tua sedang duduk di atas kursi. Namun dia tidak hanya duduk-duduk termenung menikmati siang terik di terasnya, tangannya memegangi sesuatu dan memangku sesuatu dengan cekatan. Tatapan pertamaku, untuk mengejar rasa penasaranku adalah apa yang dipegangnya. Warnanya merah dan agak besar. Bentuknya seperti jaring-jaring, lalu genggaman jemarinya seperti melakukan gerakan menganyam, tapi yang dianyam sesuatu yang keras dan berwarna coklat. Semakin mendekatinya, tampaklah lelaki tua itu memperbaiki tudung saji. Penutup makanan berwarna merah yang cukup besar, telah terkoyak di satu titik sisinya. Koyakan itu dia anyam dengan sesuatu yang berwarna coklat, dan itu adalah kawat.

Tatapanku pun berhenti saat aku perlahan-lahan keluar dari gang itu dengan tetap menahan rasa sakit di kepalaku.

 

Selamat pagi,..pagi yang cerah…07.00 pagi

Woo…wooo,,,what’s up??? Ada sepeda di pinggir jalan, sepeda tua, dulu aku menyebutnya pit kebo, karena bentuknya yang besar, tinggi dan gagah. Lalu..yah seperti biasa, lelaki tua di ujung gang itu.,,,ehmmm…salut, banyak sekali keahliannya ya. Pagi ini dia memperbaiki jari-jari roda sepeda yang rusak.

 

Tanpa kusadari betapa seringnya aku memperhatikan lelaki tua itu. Setiap hari di depan rumahnya yang jadi kos-kosan putra itu, selalu bertambah satu perabotan baru. Hari ini  sangkar burung kecil, hari berikutnya kursi pentil, lusa kemaren kursi panjang kayu, sebulan yang lalu sangkar burung dara yang besar, minggu kemaren potongan-potongan kayu bakar teronggok di depan rumahnya.. Oh,,rajin sekali lelaki tua ini.

Lelaki tua di ujung gang itu, dia lebih kuat dari usianya yang renta. Kulitnya yang telah mengeriput dan menghitam, rambutnya yang memutih dan punggungnya yang kian bongkok, tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berkarya.

Aku punya seorang lelaki tua di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Lelaki inilah yang telah membesarkanku dengan tangannya. Lelaki yang dengan separuh usianya aku belajar tentang hidup,,,ya, dialah Bapakku.

Terima kasih Bapak.

April 2007

Auditorium FIB UGM, pasca gempa 5,5 SR pada pukul 10.00.

Menanti General Aptitude Test PLN persero

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s