JATUH CINTA

Saya ingin menceritakan satu malam saya di bus Raya dalam perjalanan balik Solo – Jakarta.

Saat akan balik Jakarta, kebingungan sempat melanda karena tiket bis dan kereta sudah sulit untuk dicari. Alhamdulillah salah satu agen bis besar yang ada di kOta Solo, bis Raya masih memiliki beberapa kursi untuk keberangkatan tgl 6 Oktober 2008 sore hari. Lumayan, harga tiket hamper Rp280.000.

Rencana awal saya akan balik dengan sepupu ternyata berubah, Karena sepupu saya memilih balik bersama temanya di hari sabtu. Terpaksa saya harus balik sendirian.

Sore hari, setelah semua siap, adek kecil saya yang imut dan unpredictable,,,pipit, bersedia mengantarkanku ke terminal, saat itu waktu baru menunjukkna pukul 4 sore, bis berangkat pukul 5. Namun konyolnya sebeanrnya kami berdua tidak tahu dengan pasti arah menuju terminak tirtonadi Solo, padahal Solo adalah tempat tinggal kami selama 12 tahun lebih, terpaksa menelpon rumah menanyakan jalan ke sana. Kata Bapak di belakangnya stasiun Balapan…Alhamdulillah sampai dengan selamat. Khawatir ak dengan adekku saaat pulang ternyata dia bisa pulang dengan selamat.

Kebalikanku terakhir naik bis raya, karena hanya sendirian, di sampingku duduklah seorang mas-mas tinggi besar (cenderung ke endut). Ternyata dia temanya temanku, dan dari mas ini saya tahu kl teman ku A sudah menikah lebaran tahun lalu. Mas ini sangat cool, bahkan kursi tidak dirubah posisinya, begitu juga dengan selimut hanya didekap, padahal…dingin (kan pake AC). Diketahui mas ini kerja di Kantor Pajak Bogor, sempat juga diceramahi tentang pajak.

Kira-kira kali ini saya akan duduk bersama siapa??

Emm…ternyata, saya duduk paling belakang, dan aha…di kursi 21 sudah ada seorang pemuda memakai jaket hitam telah duduk nyaman d sana. “Permisi mas, no. 21??”. “O iya, silahkan mbak”. Mas-mas lagi. Aku letakkan barang ku dan ak ambil buku bacaan yang telah ak rencanakan akan mnemaniku di saat matahari masih ada, namun ternyata, mas ini sangat supel, diajaknya ak ngobrol, ak berusaha untuk bersikap manis dan menjadi teman ngobrol yang baik. Kebetulan mas ini orang sukoharjo, kuliah di UMS ambil jurusan teknik sipil, sekarang kerja di kontraktor Jakarta sebagai QS. Yah..nyambunglah kita.

Obrolan yang cukup menarik, hingga maghrib tiba dan gelap, bukuku tidak terbaca Karena saya keasiyakn ngobrol. Obrolan pun berakhir Karena bis tiba-tiba menjadi senyap. Hanya ucapan kecil yang menanyakan sudah sampai di mana dan apakah macet, Karen setelah itu kami berdua cukup sibuk dengan sms yang kami kirim ke kenalan kami masing-masing dan tidur-tidur ayam.

Tiba di salatiga, di depan gang sekolah ayahku dulu (MTSn ! Salatiga), air mata menitik takterperikan, begitu besar perjuangan bapak dalam kurun waktu 5 tahun menjadi kepala sekolah di MTSn ini. Dengan penuh desakan dan tekanan pro kontra dari ibu dan maslah yang timbul kemudian, namun beliau dapat menyelesaiakn dengan baik hingga pension, dalam detik ini ak berdoa, Ya allah, mohon beningkan hati bapak sehingga seluruh jerih payahnya selama ini dan seluruh kesabarannya akan menjadi buah yang amat manis di masa depan (PENYAKIT HATI DAPAT MENYERANG SIAPA SAJA).

Perjalanan cukup lama, karena dari gang sekolah inilah kemacetan sudah terasa, hingga masuk kota semarang. Alhasil kami tiba di Kendal jam 10 malam. Tiba di Kendal, bis berhenti untuk istirahat, dan kami penumpang untuk makan dan sholat. “ Ayo mbak, makan”, kata masnya, “O iya”, jawabku. Aku ambil alat sholatku dan kupakai sepatu. Agak lama sedikit, 2 menit setelah mas tersebut keluar. Begitu ak bangkit menuju pintu keluar, ternyata saya ditunggui oleh mas tersebut, begitu juga saat berjalan menuju restoran, kami berjalan bersisihan. Hingga masuk ke restoran. Setelah saya selesai membayar, “cari meja yang agak sepi saja”, kata masnya. Oke, ak akan menacri tempat yang agak longgar. Alhasil kami makan satu meja. Tidak banyak obrolan hanya bertanya, sebenarnya ini di mana dan komentar makanku yang sedikit. Selesai makan, kami pun sholat. Saya sendiri agak ribet di kamar mandi, maklum wanita membutuhkan 3x waktu di kamar mandi lebih banyak dari pria. Setelah selesai dari kamar masndi, saya sholat. Selesai sholat, suasana restoran agak sepi, namun ternyata, di bangku panajng dekat musola, mas tadi duduk di sana…aduh kenapa ak berfeeling dia menunggu saya…ya sudah (karena kebiasaan saya, walaupun kami berteman, tapi kl bisa tidak tunggu-tungguan ya duluan saja atau pura-pura ga kenal juga ga masalah). Ya sudah, saya duduk juga di bangku itu untuk beberapa saat, Karena bis sedang putar balik. Setelah putar balik, barulah kami masuk ke dalam bis.

Perjalanan yang panjang dari malam hingga pagi. Pesan ibu, jangan terlalu gampang untuk tidur di perjalanan sendirian, alhasil tiap jam saya terbangun. Namun mas ini tetap saja tidur lelap. Baru sekitar subuh dia bangun dan berkata…”baru sampai indramayu, masih jauuhhh”. Emm, dan kami pun sholat subuh di atas bus. Setelah terang novel kembali ak buka, menemani perjlaanan Cikampek – Jakarta. Bisa baca karena masnya memilih tidur setelah mengabari beberapa temannya.

Keluar tol, dapatlah pasar rebo..sepupuku berjanji menjemput, tapi kasihan sekali jika harsu menjemput, wong aku bisa sendiri. Ternyata masnya pun juga turun di pasar rebo Karena rumahnya di Kramat Jati. Setelah sedikit disorientasi akhirnya menyebrang dan naik angkot. Last journey…with him. Hanya diam dan saling memalingkan wajah, padahal kami duduk berdampingan di angkot, lidahpun tercekat tidak ingin bertanya, “siapa kah namamu?, bisa bertukar no. telp?”,,,,

Ya hingga detik terakhir kebersamaan kami (harus disebut apa, Karena dari solo hingga bulak rantai dia selalu bersamaku) tidak ada pertanyaan itu. Aku hanya tahu namanya dari percekapan telponnya yang mengingatkan kembali pada yang ditelepon yang ternyata ibu temannya, namanya adalah “PURWANTO”, dan entah apa dia tahu namaku karena ak tidak menyebut namaku ditelpon, hanya kondektur yang bergumam “mbak ika, mandhap pundi?” (namaku tertera dalam tiket) dan saat tiketku dipinjam karena harga tiket kami beda (agen solo dan agen Sukoharjo beda harga)

Demikianlah ceritaku. Diperlakukan sebagai seorang wanita yang harus dibersamai, hanya sebuah keheranan yang kemudian menjadi pikiran saya…”kok masnya tahan dengan saya?”

Komentar teman tentang saya untuk masalah jodoh:

1.       aya adalah orang yang tidak mau ngalah, walaupun sudah ketahuan kalah dan salah

2.       selalu ingin menjadi superior

3.       saya membuat laki-laki takut dan segan karena saya selalu menganggap semua hal adalah serius, padahal itu bukan sesuatu yang serius

4.       saya galak mungkin (ini feeling saya sendiri)

oohhh….jodoh, akankah engkau masih menjadi misteri dalam waktu dekat ini??

8 Oktober 2008

4 responses to “JATUH CINTA

  1. Aku pernah pny cerita ky kamu..
    Perjalanan Pemalang-Semarang didampingi seorg Marinir, serasa memiliki BodyGuard pribadi. Ups!! Namaku Ika juga.. Lam-kenal

  2. ika juga ya…salam kenal juga.
    trima kasih komentarnya…ada banyak kisah, ada banyak jejak…

    semoga selalu bahagia😉

  3. assalamu’alaykum,

    wah ternyata banyak update-an terbaru

    …dalam waktu dekat ini??

    hmmm… ditunggu undangannya zu🙂

  4. amin…terima kasih doanya…

    iya nih, lagi ngumpulin tulisan untuk novelku…hehe…

    hati-hati, dicerna baik-baik ceritanya. is it fiction or nonfiction??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s